Sabtu, 18 Mei 2013

Pentingnya Mengenal Al-Asma` Al-Husna

Mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya.
Keutamaan dan keagungan perihal mendalami ilmu Al-Asma` Al-Husna akan lebih jelas dengan memperhatikan beberapa keterangan berikut.

Pertama: ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama, yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung. Tentunya hal ini sangat dimaklumi karena kemuliaan suatu ilmu pengetahuan bergantung kepada jenis pengetahuan yang dipelajari dalam ilmu itu. Sementara itu, telah dimaklumi pula bahwa tiada yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abu Bakr Ibnul ‘Araby rahimahullah berkata, “Kemuliaan sebuah ilmu bergantung kepada apa-apa yang diilmui padanya. Sementara itu, (mengenal Allah) Al-Bari adalah semulia-mulia pengetahuan. Oleh karena itu, mengilmui nama-nama-Nya adalah ilmu yang paling mulia.”[1]
Oleh karena itu, mempelajari dan mendalami makna Al-Asma` Al-Husna adalah amalan yang paling utama dan mulia.

Kedua: mengenal Allah dan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan menambah kecintaan hamba kepada Rabb-nya, akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan dan membesarkan-Nya, lebih mengikhlaskan segala harapan dan tawakkal hanya kepada-Nya, serta membuat rasa takutnya terhadap Allah semakin mendalam. Tatkala pengetahuan dan pemahaman seorang hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Rabb-nya semakin kuat dan mendalam, akan semakin kuat pula tingkat penghambaannya kepada Allah, semakin tulus sikap berserah dirinya  kepada syariat Allah, serta semakin tunduk kepada perintah Allah dan semakin jauh meninggalkan larangan-Nya.

Ketiga: mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah dasar keimanan dan, dengan itu pula, iman akan semakin bertambah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’dy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, mengimani dan mengenal Al-Asma` Al-Husna mencakup tiga jenis tauhid: tauhid rubûbiyyah, tauhid ulûhiyyah, dan tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat. Tiga jenis tauhid ini adalah perputaran dan ruh iman, serta pokok dan puncak (keimanan). Oleh karena itu, setiap kali pengetahuan hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin bertambah, akan bertambah pula keimanan dan akan semakin kuat keyakinan (hamba) tersebut.”[2]
Demikian pula sebaliknya, siapa saja yang pengetahuannya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah kurang, kurang pula keimanannya.
Siapa saja yang mengenal Allah, ia akan mengenal segala sesuatu selain Allah. Namun, siapa saja yang kondisinya justru sebaliknya, perhatikanlah firman-Nya,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]
Cermatilah ayat di atas. Tatkala seseorang lupa terhadap Allah, Allah membuatnya lupa terhadap dirinya sendiri, lupa terhadap apa-apa yang merupakan kebaikannya, serta lupa terhadap sebab-sebab keberuntungannya di dunia dan akhirat.

Keempat: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan makhluk yang sebelumnya mereka tidaklah pernah terwujud dan tidak pernah tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla juga memudahkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi untuk mereka serta memberikan berbagai nikmat kepada mereka yang tidak mungkin bisa dijumlah dan dihitung. Seluruh hal tersebut adalah agar mereka mengenal Allah dan menyembah-Nya. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, seperti itu pula bumi. Perintah-Nya berlaku padanya agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [Ath-Thalaq: 12]
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman pula,
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ. ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, patutkah kalian kafir terhadap Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb alam semesta.’ Di bumi itu, Dia menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan padanya Dia menentukan kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian, Dia menuju langit, sedang langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’.” [Fushshilat: 9-11]
Allah ‘Azza Dzikruhu juga menyatakan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka tidak pula menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh.” [Adz-Dzariyat: 56-58]

Oleh karena itu, usaha seorang hamba dalam mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sesuai dengan maksud penciptaannya. Meninggalkan dan menelantarkan hal tersebut tergolong melalaikan maksud penciptaannya. Karena, sangatlah tidak layak seorang makhluk yang lemah yang telah mendapatkan berbagai macam keutamaan serta telah merasakan beraneka ragam karunia dan nikmat Allah, tetapi ia jahil terhadap Rabb-nya serta berpaling dari mengenal kebesaran, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.

Kelima: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mencintai timbulnya pengaruh nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada makhluk. Tentunya hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Di antara nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim[3] yang Maha merahmati makhluk dengan berbagai nikmat. -Sebagai contoh-, perhatikanlah surah Ar-Rahman, dari awal hingga akhir surah, yang menunjukkan rahmat Allah yang maha luas. Pada awal surah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ. فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“(Allah) Yang Maha Merahmati, Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya agar pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya. Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu secara adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang baunya harum. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” [Ar-Rahman: 1-13]
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,
فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ar-Rûm: 50]
Karena rahmat Allah, Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mempunyai sifat merahmati makhluk lain sebagaimana yang ditunjukkan dalam nash-nash dalil yang sangat banyak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-‘Alim ‘Yang Maha Mengetahui’ dan Allah mencintai orang-orang yang berilmu sebagaimana dalam nash-nash dalil yang sangat banyak.
Allah adalah At-Tawwab ‘Maha Menerima Taubat’ dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [Al-Baqarah: 222]
Demikianlah seterusnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Demikianlah keadaan nama-nama Allah yang maha husna. Makhluk yang paling Dia cintai adalah siapa saja yang bersifat dengan konsekuensi dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Sedangkan, (makhluk) yang paling Dia benci adalah siapa saja yang bersifat dengan kebalikan dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Oleh karena itu, (Allah) membenci orang kafir, zhalim, jahil, yang berhati keras, bakhil, penakut, hina, dan bejat. Sementara itu, (Allah) Subhanahu adalah Jamil ‘Maha indah, elok’, cinta kepada keindahan; Alim, cinta kepada ulama; Rahim, cinta kepada orang yang merahmati; Muhsin ‘Maha Memberi Kebaikan’, cinta kepada orang yang berbuat kebaikan; Syakûr ‘Maha Pembalas Jasa’, cinta kepada orang yang bersyukur; Shabûr ‘Yang Maha Sabar’[4] cinta kepada orang yang bersabar; Jawwad ‘Maha Dermawan’[5], cinta kepada orang-orang yang dermawan dan berbuat kebajikan; Sattar [6], cinta kepada As-Sitr; Qadir, mencela kelemahan -“dan mukmin yang kuat lebih Dia cintai daripada mukmin yang lemah”-[7]; ‘Afûw ‘Maha Pemaaf’, cinta kepada sifat pemaaf; dan Witr ‘Yang Maha Satu’, cinta kepada yang witir[8]. Setiap hal yang Allah cintai merupakan pengaruh dan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan, setiap hal yang Dia benci berasal dari apa-apa yang bertentangan dan berlawanan dengan (pengaruh dan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya).”[9]

Kenam: orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla akan berdalil dengan sifat-sifat dan perbuatan Allah terhadap segala sesuatu yang Dia perbuat dan segala sesuatu yang Dia syariatkan. Karena, seluruh perbuatan Allah adalah keadilan, keutamaan, dan hikmah, yang telah menjadi konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, tiada suatu apapun yang Dia syariatkan, kecuali sesuai dengan konsekuensi tersebut. Sehingga, segala hal yang Allah beritakan adalah sesuatu yang hak dan benar, sedang segala perintah dan larangan-Nya adalah keadilan dan hikmah.
Misalnya, seorang hamba memperhatikan Al-Qur`an dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada makhluk melalui lisan para rasul tentang nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya serta tentang keharusan menyucikan dan membesarkan Allah terhadap segala sesuatu yang tidak layak. Juga, ia memperhatikan bagaimana perbuatan Allah kepada para wali yang memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan kenikmatan yang mereka peroleh karena itu, ataupun ia memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang menentang-Nya dan kebinasan akibat perbuatan mereka. Berdasarkan hal ini, orang-orang yang memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan berdalilkan bahwa Allah adalah satu-satu-Nya Ilah yang berhak diibadahi, “Yang Maha mampu atas segala sesuatu”, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu”, “Yang siksaan-Nya keras”, “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, “Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”, “Yang Maha melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki”, dan seterusnya berupa hal-hal yang menunjukkan rahmat, keadilan, keutamaan, dan hikmah Allah Jalla wa ‘Ala.
Apabila seorang hamba memperhatikan hal di atas, tidaklah diragukan bahwa hal tersebut akan menambah keyakinannya, memperkuat imannya, menyempurnakan tawakkalnya, dan semakin menambah penyerahan dirinya kepada Allah.

Ketujuh: mengenal Allah dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah perniagaan yang sangat menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah membuat jiwa menjadi tenang, hati menjadi tentram, dada menjadi lapang dan bersinar, merasakan keindahan surga Firdaus pada hari kiamat, melihat wajah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, meraih keridhaan Allah, dan selamat dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Insya Allah, keuntungan-keuntungan tersebut akan lebih tampak lagi pada uraian Al-Asma` Al-Husna yang akan diterangkan dalam tulisan ini secara bersambung.

Kedelapan: berilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah penjaga dari ketergelinciran, pembuka pintu amalan shalih, pemacu untuk menyongsong segala ketaatan, penghardik dari dosa dan maksiat, pembersih jiwa dari sikap-sikap tercela, penghibur pada masa musibah dan petaka, pengawal dalam menghadapi gangguan syaithan, penyeru kepada akhlak mulia dan fadhilah, serta lain sebagainya yang merupakan buah dan manfaat ilmu Al-Asma` Al-Husna.

Kesembilan: mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah dasar pokok untuk mengetahui segala ilmu pengetahuan yang lain. Hal ini karena yang dipelajari -selain ilmu tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala- terbagi dua:
  1. Makhluk-makhluk yang diadakan dan diciptakan oleh Allah Ta’ala.
  2. Perintah-perintah yang, dengannya, Allah memerintah makhluk, baik berupa perintah kauny maupun perintah syar’iy.
Sedangkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah bahwa mencipta dan memerintah hanyalah hak (Allah).” [Al-A’raf: 54]
Telah dimaklumi bahwa segala ciptaan dan perintah Allah adalah baik, dibangun di atas kemaslahatan, rahmat, dan kasih sayang untuk segenap makhluk. Seluruh hal tersebut adalah pengaruh dari kandungan Al-Asma` Al-Husna. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa penciptaan dan perintah bersumber dari Al-Asma` Al-Husna Allah Jalla Jalaluhu. Sebagaimana, segala sesuatu yang ada -selain Allah- adalah karena diadakan oleh Allah, sedang keberadaan selain-Nya adalah ikut kepada keberadaan-Nya, dan makhluk yang dicipta ikut kepada Yang Menciptakannya maka demikian pula ilmu tentang Allah adalah sumber segala ilmu yang lain. Oleh karena itu, berilmu tentang Al-Asma` Al-Husna adalah sumber ilmu pengetahuan yang lain.[10]

Kesepuluh: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitung (nama-nama) tersebut, ia akan dimasukkan ke dalam surga.”
Insya Allah, akan datang, pembahasan yang berkaitan dengan makna menghitung Al-Asma` Al-Husna, bahwa maknanya bukan hanya sekadar menjumlah dan menghafalkannya, melainkan juga mengetahui makna dan kandungannya sehingga tiada jalan bagi siapa saja yang ingin meraih keutamaan yang tersurat dalam hadits di atas, kecuali dengan mempelajari Al-Asma` Al-Husna sesuai dengan jalan yang benar dan pemahaman lurus.

Kesebelas: ayat-ayat yang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah kedudukannya yang paling agung dalam Al-Qur`an Al-Karim melebihi ayat lain[11]. Oleh karena itu, ayat yang paling agung adalah ayat Kursi -yang mengandung sejumlah sifat dan beberapa nama Allah- sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau,
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ { اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ
“Wahai Abul Mundzir (Ubay), ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya (Ubay) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau (kembali) bertanya, “Wahai Abul Mundzir, ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya menjawab, “Allahu La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qayyûm [ayat Kursi],” maka beliau memukul dadaku seraya berkata, “Demi Allah, ilmu akan membahagiakanmu, wahai Abul Mundzir.” [12]
Demikian pula keberadaan dan keutamaan surah Al-Fatihah yang telah dikenal dan dimaklumi, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyifatkan surah Al-Fatihah,
هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ
“(Al-Fatihah) itu adalah seagung-agung surah dalam Al-Qur`an.” [13]
Juga keutamaan surah Al-Ikhlash yang mengandung nama-nama dan sifat-sifat Allah. Salah satu keutamaannya tertera dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (surah Al-Ikhlash) itu senilai sepertiga Al-Qur`an.” [14]
Keterangan di atas menunjukkan keagungan dan kemuliaan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikian beberapa hal yang menunjukkan pentingnya mempelajari Al-Asma` Al-Husna dan betapa perlunya seorang hamba untuk mendalaminya.
Perlu kami ingatkan pula bahwa pembahasan Al-Asma` Al-Husna bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah, bukan bersumber dari akal, perasaan, eksperimen, inspirasi, dan adat istiadat. Ini adalah kaidah dasar yang harus kami ingatkan dalam tulisan ini mengingat bahwa banyak di antara kaum muslimin yang tertipu dengan kepandaian sebagian orang, yang hanya berlari di belakang dunia atau terkungkung oleh hawa nafsu dan was-was syaithan, dengan membawakan kandungan dan manfaat Al-Asma` Al-Husna yang tidak pernah ditunjukkan oleh tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah.
Semoga Allah memudahkan segala sebab kebaikan untuk kita semua dan menjauhkan kita semua dari segala kejelekan. Wallahu Ta’ala A’lam.


[1] Bacalah Ahkam Al-Qur`an 2/793 -dengan perantara kitab Asma`ullah wa Shifatuhu karya Al-Asyqar hal. 23-.
[2] At-Taudhih wa Al-Bayan Li Syajarah Al-Iman hal. 41.
[3] Nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim berasal dari kata rahmat. Terdapat rincian makna kata rahmat pada nama Ar-Rahman dan kata rahmat pada nama Ar-Rahim. Insya Allah, penjelasan tentang makna dan kandungan kedua nama itu akan datang.
[4] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[5] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[6] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[7] Petikan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim.
[8] Yang witir mempunyai banyak kandungan makna. Insya Allah, hal ini akan diuraikan dalam pembahasan nama Al-Witr.
[9] ‘Idah Ash-Shabirin hal. 241. Baca jugalah Madarij As-Salikin 1/420 dan Miftah Dar As-Sa’adah 1/3.
[10] Demikian makna keterangan Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Bada`i’ Al-Fawa`id 1/163.
[11] Bacalah keterangan Ibnu Taimiyah dalam Da` At-Ta’arudh baina Al-‘Aql wa An-Naql 5/310-313.
[12] Dikeluarkan oleh Muslim no. 810 dan Abu Dawud no. 1460.
[13] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Abu Dawud no. 1458, An-Nasa`iy 2/193, dan Ibnu Majah no. 3785 dari Abu Sa’id Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu.
[14] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Abu Dawud no. 1461, dan An-Nasa`iy 2/171 dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan pula oleh Muslim no. 812, At-Tirmidzy no. 2899, dan Ibnu Majah no. 3738 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga dikeluarkan oleh Muslim no. 811 dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu.

SUMBER

ISTIGHOTSAH SYIRIK

Kesyirikan demi kesyirikan telah melanda umat Islam di negeri kita, karena minimnya ilmu mereka tentang tauhid, dan sibuknya mereka dengan urusan dunia yang melalaikan mereka dari mengkaji agama mereka.
Sebagian kaum muslimin ada yang terjatuh dalam kubang kesyirikan dari pintu istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada nabi, wali, dan lainnya. Mereka menyangka bahwa ber-istighotsah kepada makhluk adalah perkara yang disyari’atkan.
Ini jelas salah dan batil!! Kesalahan dan kebatilan seperti ini dilandasi oleh kesalahpahaman tentang makna istighotsah, sehingga mereka rancu dalam memahami antara istighotsah dan tawassul.
Istighotsah, maknanya adalah meminta al-ghouts (pertolongan) di saat susah atau menghadapi musibah. Sedang tawassul adalah seorang hamba mencari jalan menuju Allah dengan berdoa kepada Allah sambil menyebutkan nama atau sifat-Nya, menyebut amal sholihnya, atau doa orang lain. Jadi, tawassul adalah ibadah yang tetap kita minta dan hadapkan kepada Allah, bukan kepada wali-wali atau orang sholih.
Dekade belakangan ini, muncul sebuah ritual baru yang disebut dengan “Istighotsah Akbar” ketika negeri ini didera dengan krisis moneter dan sejumlah musibah lainnya. Di sebagian tempat, ada di antara kaum muslimin yang ber-istighotsah (meminta pertolongan di kala susah) kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani. Jelas ini adalah kebatilan dan kemusyrikan!!
Para pembaca yang budiman, istighotsah adalah salah satu diantara jenis-jenis doa, sedang doa adalah ibadah sebagaimana telah kami jelas dalam edisi-edisi lalu. Jika doa adalah ibadah, maka doa tak boleh dihadapkan dan dipersembahkan kepada selain Allah, sebab itu adalah kesyirikan. Bahkan doa hanya kepada Allah saja!!!
Jadi, meminta pertolongan kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani di kala susah adalah perbuatan kesyirikan yang diharamkan oleh Allah -Azza wa Jalla- dan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Seseorang jika mendapatkan kesusahan berupa penyakit, kemiskinan, kesempitan hidup, stress, trauma, ketakutan, paceklik, badai, musibah, kegagalan, dan lainnya, maka hendaknya ia berdoa kepada Allah yang menghilangkan segala kesusahan. Jangan berdoa kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan-kesusahan itu. Sebab makhluk lain juga sama lemahnya dan butuhnya kepada Allah. Karenanya, tak layak berdoa dan memohon pertolongan kepada makhluk dalam menghilangkan kesusahan dan musibah yang tak mampu ditangani oleh makhluk!!
Allah -Ta’ala- berfirman,
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus : 106-107)
Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat ini, “Maknanya, bahwa Allah -Subhanahu-, Dia-lah Yang Memberi mudhorot dan manfaat. Jika Dia menurunkan pada hamba-Nya suatu mudhorot (musibah), maka tak ada seorang pun yang mampu menghilangkan (menolak) musibah, siapapun orangnya. Bahkan Dia (Allah)-lah yang khusus mampu menghilangkannya, sebagaimana halnya Dia yang secara khusus menurunkannya”. [Lihat Fathul Qodir Al-Jami' baina Fannai Ar-Riwayah wa Ad-Diroyah min At-Tafsir (3/412)]
Di dalam ayat itu Allah menerangkan bahwa seorang yang berdoa memohon pertolongan kepada makhluk, baik di kala susah atau senang adalah orang yang zalim. Orang yang memalingkan doanya kepada makhluk, berarti ia telah menempatkan doanya bukan pada tempatnya, yakni bukan pada Allah. Inilah yang disebut “zhalim”, sebab kezhaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Nah, jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- saja berdoa kepada selain Allah bisa menjadi zhalim dan musyrik (walaupun itu tak mungkin terjadi), maka kita yang bukan nabi dan bukan pula rasul Allah lebih pantas takut dan waspada terhadap kesyirikan. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 182)]
Ini merupakan peringatan keras buat kiyai-kiyai dan ustadz yang biasa memimpin massa dalam ber-istighotsah kepada selain Allah -Azza wa Jalla- saat musibah dan kesempitan melanda umat. Makhluk yang kita tempati bermohon (semisal, Syaikh Abdul Qodir Jailani, Wali Songo, Nyi Roro Kidul, dan lainnya), maka mereka semua adalah makhluk yang lemah, tak mampu memberi rejeki, dan pertolongan. Jika kalian menyangka bahwa mereka mampu menolong kalian, memenuhi hajat kalian dan menolak bala dari kalian, maka ini adalah sangkaan batil dan kedustaan di hadapan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah, itu adalah berhala, dan kalian telah membuat kedustaan. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah, itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan”. (QS. Al-Ankabuut : 17)
Mufassir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Al-Imad Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Kemudian Allah mengabarkan kepada mereka (kaum musyrikin) bahwa arca-arca mereka yang mereka sembah, dan juga berhala-berhala mereka, semuanya tak mampu memberi mudhorot dan manfaat. Kalian (musyrikin) hanya menciptakan nama-nama bagi mereka (sesembahan itu). Kalian menamai berhala dan arca-arca itu dengan “sesembahan”. Padahal mereka adalah makhluk seperti kalian. Demikianlah penafsiran yang dinukil oleh Al-Aufiy dari Ibnu Abbas. Penafsiran inilah juga yang dinyatakan oleh Mujahid, dan As-Suddi”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/269), tahqiq Sami Salamah]
Jika kita menginginkan rezki berupa kesehatan, kesembuhan, harta, makanan, tempat tinggal, kendaraan dan segala hajat kita, maka bermohonlah kepada Allah -Azza wa Jalla-, Sembahan dan Robb kalian yang mampu mengatur, memelihara, dan memenuhi segala hajat dan kemaslahatan para hamba-Nya. Janganlah meminta rezki kepada Nyi Roro Kidul, Wali Songo, Syaikh Abdul Qodir Jailaniy, Syaikh Yusuf Al-Makassari, tapi mintalah kepada Allah sebagai bentuk kesyukuran kita kepada-Nya!!!
Tak ada makhluk yang paling sesat jalannya dibandingkan orang yang memohon dan berdoa kepada makhluk yang tak memiliki daya dan upaya. Terlebih lagi jika yang diseru adalah mayat yang sudah terkapar dan termakan ulat dalam pusaranya.
Allah –Jalla wa Alaa’- berfirman,
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka”. (QS. Al-Ahqoof : 56)
Syaikh Isma’il Ibn Abdil Ghoniy Ad-Dahlawiy -rahimahullah- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin sungguh telah bodoh. Sungguh mereka berpaling dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui menuju kepada manusia-manusia yang tak mampu mendengarkan doa mereka. Jika manusia-manusia itu mampu mendengarkan doanya, maka mereka (manusia) itu tak mampu memenuhi doa mereka. Mereka itu tak mampu melakukan apa-apa. Jadi, dari situ tampaklah bahwa orang-orang yang beristighotsah (kepada selain Allah), dan menyangka bahwa diri mereka tak berbuat syirik. Karena mereka (yang ber-istighotsah) memang tak meminta kepada orang-orang mati agar hajatnya dipenuhi, mereka hanya memohon doa dari mereka. Jika mereka ini tak berbuat syirik dari sisi meminta dipenuhinya hajat mereka, maka sungguh mereka berbuat syirik dari sisi doa. Mereka menyangka bahwa manusia yang mereka sembah dapat mendengarkan seruan mereka dari jauh, sebagaimana mereka (sesembahan batil itu) mendengarkan seruan mereka dari dekat”. [Lihat Risalah At-Tauhid (hal. 72)]
Jadi, diantara manusia ada yang menyangka saat ber-istighotsah kepada “wali-wali” bahwa mereka tak meminta hajat kepada “wali-wali”, mereka hanya menjadikannya sebagai perantara. Dalam artian, mereka berdoa kepada “wali-wali” dengan harapan wali itu yang menyampaikan doanya (yang berisi permohonan hajat) kepada Allah.
Inilah kemusyrikan yang ada di zaman jahiliah; yang pernah dilakukan oleh bangsa Arab dan lainnya sebelum Islam datang dan tersebar. Kemusyrikan seperti masih terus berlanjut dan berulang dimana-mana, sampai di Indonesia pun ada dan tersebar!!!
Itulah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya saat mengingkari orang-orang yang mengangkat sesembahan sebagai perantara antara dirinya dengan Allah,
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil wali (sesembahan) selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka (wali-wali), melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS. Az-Zumar : 3)
Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan kesyirikan orang-orang jahiliah, “Inilah masalah bersar yang di dalamnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menyelisihi mereka. Beliau datang membawa ikhlash (tauhid). Beliau mengabarkan kepada mereka bahwa itulah (yakni, tauhid) agama Allah yang Dia tak menerima dari seorang pun selainnya, dan bahwa barangsiapa yang melakukan kesyirikan yang mereka anggap baik, maka Allah mengharamkan surga baginya, sedang tempatnya adalah neraka” [Lihat Masa'il Al-Jahiliyyah (hal 37)]
Allah adalah satu-satunya sembahan kita. Dia-lah tempat kita meminta segala hajat dan pertolongan; Dia-lah yang menghilangkan segala marabahaya, kesusahan, serta Dia yang memberikan nikmat kepada kita, bukan makhluk yang memberi?! Dia yang menjadikan kita sebagai kholifah yang mengurusi dan mengarahkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa beribadah kepada-Nya.
Allah -Ta’ala- berfirman,
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (QS. An-Naml : 62)
Tak ada yang mampu menolak dan mengangkat musibah dari kita, selain Allah -Azza wa Jalla-. Lihatlah peristiwa Lapindo di Sidoarjo, dan Gunung Merapi di Yogyakarta. Tak ada yang mampu mengatasinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk lemah, semisal Mbah Marijan!!! Perhatikan penyakit yang melanda manusia, tak akan hilang, kecuali Allah menghendakinya. Semua ini adalah fakta dan kenyataan yang menyadarkan kita bahwa tak ada yang menghilangkan musibah dan kesusahan, selain Allah!!
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.  Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

SUMBER

BERDOA DI ANTARA ADZAN DAN IQAMAH




Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi
: 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)

Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. 

Memang benar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول . ثم صلوا علي . فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا

“Jika kalian mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan, ucapkanlah apa yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena setiap seseorang bershalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali” (HR. Muslim, no. 384)
Namun membaca shalawat setelah adzan itu dengan shalawat yang diajarkan Nabi, sendiri-sendiri dan dengan suara yang tidak dikeraskan serta penuh kekhusyukan. 
Bukan bersama-sama, dengan shalawat kreasi orang dan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).