Sesungguhnya khutbah Jum’at merupakan
kesempatan yang sangat besar untuk berdakwah dan membimbing manusia
menuju keridhaan Allah. Hal itu, jika khutbah dimanfaatkan
sebaik-baiknya, dengan menyampaikan materi yang dibutuhkan oleh hadirin
menyangkut masalah agama mereka, dengan ringkas, tidak panjang lebar,
dan dengan cara yang menarik serta tidak membosankan, sebagaimana
dicontohkan telah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
KEDUDUKAN KHUTBAH JUM'AT
Diantara bukti yang menunjukkan pentingnya khutbah Jum’at adalah sebagai berikut.
Pertama : Perintah Allah untuk segera
mendatangi shalat Jum’at dan khutbahnya, dan larangan berjual-beli
serta mu’amalah lainnya pada saat itu.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai, orang-orang yang beriman. Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" [Al-Haaqqah/62 : 9]
Kedua : Perintah untuk mendengarkan khutbah, dan gugurnya pahala shalat Jum’at bagi orang yang berbicara saat khutbah berlangsung. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
"Jika engkau berkata kepada kawanmu
“diamlah!”, pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka engkau
telah mengatakan perkataan sia-sia" [HR Bukhari, no. 934; Muslim, no.
851]
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
berkata,”Hadits ini dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam
perkataan pada saat khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama’
terhadap orang yang mendengar khutbah.” [Fathul Bari Syarh Shahih
Bukhari]
Ketiga : Makmum dilarang
melakukan segala perkara yang melalaikan dari mendengar khutbah.
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda.
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
"Barangsiapa berwudhu, lalu dia
melakukan wudhu itu sebaik-baiknya, lalu dia mendatangi (khutbah)
Jum’at, lalu mendengarkan dan diam, maka diampuni (dosanya) yang ada
antara Jum’at itu dengan Jum’at lainnya, ditambah tiga hari. Dan
barangsiapa menyentuh kerikil (yakni mempermainkannya, Pen.), maka dia
telah berbuat sia-sia" [HR Muslim, no. 857; Abu Dawud, no. 105;
Tirmidzi, no. 498; Ibnu Majah, no. 1090]
Imam An Nawawi berkata,”Pada
hadits di atas terdapat larangan menyentuh kerikil dan permainan
lainnya pada saat khutbah. Di dalamnya terdapat isyarat, agar hati dan
anggota badan (hadirin) tertuju kepada khutbah. Dan yang dimaksudkan
dengan “berbuat sia-sia” di sini, yaitu perbuatan batil, tercela, dan
tertolak.” [Syarh Muslim, karya An Nawawi]
Keempat : Malaikat mendengarkan
khutbah Jum’at. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلَائِكَةٌ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
"Jika hari Jum’at, pada setiap pintu
dari pintu-pintu masjid terdapat malaikat-malaikat yang menulis orang
pertama (yang hadir), kemudian yang pertama (setelah itu). Jika imam
telah duduk (di mimbar untuk berkhutbah), mereka melipat
lembaran-lembaran (catatan keutamaan amal) dan datang mendengarkan
dzikir (khutbah)". [HR Muslim, no: 24, 850]
Al Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah berkata: “Yang dimaksudkan dengan melipat
lembaran-lembaran, adalah melipat (menutup) lembar catatan
keutamaan-keutamaan yang berkait dengan bersegera menuju masjid, bukan
lainnya, seperti: (lembaran yang mencatat pahala) mendengarkan khutbah,
mendapati shalat, dzikir, do’a, khusyu’, dan semacamnya; karena
sesungguhnya hal itu pasti ditulis oleh dua malaikat penjaga”. [Fathul
Bari, 2/448, Darul Hadits, Kairo, penjelasan hadits no. 881]
Dari keterangan-keterangan di atas
jelaslah, bahwa khutbah Jum’at memiliki kedudukan yang agung dalam
syari’at Islam, sehingga sepantasnya seorang khatib melaksanakan
tugasnya dengan sebaik-baiknya. Seorang khathib harus memahami aqidah
yang shahihah (benar), sehingga dia tidak sesat dan menyesatkan orang
lain. (Seorang khatib seharusnya) memahami fiqih, sehingga mampu
membimbing manusia dengan cahaya syari’at menuju jalan yang lurus.
(Seorang khatib harus) memperhatikan keadaan masyarakat, kemudian
mengingatkan mereka dari penyimpangan-penyimpangan dan mendorong kepada
ketaatan.
Seorang khathib sepantasnya juga
seorang yang shalih, mengamalkan ilmunya, tidak melanggar larangan,
sehingga akan memberikan pengaruh kebaikan kepada para pendengar.
Wallahu a’lam.
TATA-CARA KHUTBAH JUM'AT
Kita meyakini, bahwa Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik
dalam beragama dan beribadah kepada Allah. Oleh karenanya, hendaknya
kita mencontoh Beliau dalam berkhutbah. Dan pasti, cara khutbah Nabi
adalah yang paling baik dan utama. Berikut adalah petunjuk Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam secara ringkas dalam menyampaikan khutbah
Jum’at:
Pertama : Khathib naik mimbar, lalu mengucapkan salam kepada hadirin.
Kedua : Kemudian duduk, menanti adzan selesai, sambil menirukan adzan.
Ketiga : Kemudian berdiri untuk berkhutbah dan membukanya dengan:
- Hamdalah (bacaan alhamdulillah).
- Sanjungan kepada Allah,
- Syahadatain,
- Bacaan shalawat Nabi,
- Bacaan ayat-ayat taqwa,
- Dan perkataan amma ba’d.
Semua ini dapat dilihat pada contoh khutbah yang akan kami sampaikan insya Allah.
Keempat : Khathib berkhutbah dengan berdiri, menghadapkan wajah kepada jama’ah.
Kelima : Duduk diantara dua khutbah, dengan tidak berbicara pada saat duduknya.
Keenam : Khutbah hendaklah sebentar, shalat lebih panjang, namun keduanya itu sedang.
Ketujuh : Khathib hendaklah menjiwai khutbahnya.
Kedelapan: Berkhutbah dengan perkataan yang jelas dan tidak berbicara cepat.
Kesembilan : Jika ada keperluan, boleh menghentikan khutbahnya sementara. Seperti mengingatkan shalat tahiyatul masjid bagi orang yang baru datang, menegur hadirin yang ramai, dan semacamnya.
Kesepuluh : Jika berdo’a, mengisyaratkan dengan jari telunjuk.
Kesebelas : Setelah selesai berkhutbah, mengimami shalat.
Adapun Dalil-Dalil Hal Di Atas Adalah Sebagai Berikut:
Pertama : Khathib naik mimbar, lalu mengucapkan salam kepada hadirin, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdullah,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ
"Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam". [HR Ibnu
Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah].
Bagaimana bentuk mimbar Rasulullah? Hal ini disebutkan dalam banyak hadits shahih, antara lain:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ وَكَانَ مِنْبَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصِيرًا إِنَّمَا هُوَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Dan
mimbar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pendek. Mimbar Beliau
hanyalah tiga tingkat”. [HR Ahmad, 1/268-269. Dihasankan oleh Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washabi dalam kitab Al Jauhar Fi ‘Adadi
Darajatil Mimbar, hlm. 61-64]
Dalam hadits lain disebutkan, bahwa
mimbar Nabi itu dua tingkat, kemudian yang ke tiga tempat duduknya. [HR
Ibnu Khuzaimah, no. 1777, dan lainnya. Lihat kitab Al Jauhar Fi ‘Adadi
Darajatil Mimbar, hlm. 55-56].
Sesungguhnya tidak ada perselisihan antara kedua hadits itu, karena mimbar tersebut ada tiga tingkat, tingkat ke dua untuk berdiri, dan tingkat ke tiga untuk duduk, wallahu a’lam.
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ
"Dari Saib bin Yazid, dia berkata:
“Dahulu adzan yang pertama pada hari Jum’at ketika imam telah duduk di
atas mimbar. Itu pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu
Bakar, dan Umar Radhiyallahu 'anhuma. Ketika Utsman Radhiyallahu 'anhu
(menjadi Khalifah), dan orang-orang telah banyak, ia menambah adzan
yang ketiga di Zaura”. Abu Abdullah (yaitu Imam Bukhari) berkata,”Zaura
adalah satu tempat di pasar di kota Madinah.” [HR Bukhari, no. 912]
Adapun khathib menirukan adzan, disebutkan dalam hadits di bawah ini:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ
حُنَيْفٍ قَالَ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ جَالِسٌ
عَلَى الْمِنْبَرِ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ قَالَ مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ وَأَنَا
فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ
وَأَنَا فَلَمَّا أَنْ قَضَى التَّأْذِينَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ
إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
هَذَا الْمَجْلِسِ حِينَ أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ يَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ
مِنِّي مِنْ مَقَالَتِي
"Dari Abu Umamah Sahl bin Hunaif, dia
berkata: Aku mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang sedang duduk di
atas mimbar, ketika muadzin berkata “Allahu Akbar, Allahu Akbar”,
Mu’awiyah berkata “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Muadzin berkata
“Asyhadu alla ilaha illallah”, Mu’awiyah berkata: “Dan saya”. Muadzin
berkata “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, Mu’awiyah berkata: “Dan
saya”. Setelah muadzin menyelesaikan adzannya, Mu’awiyah berkata:
“Wahai, manusia. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah n di atas
tempat duduk ini -ketika muadzin beradzan-, Beliau mengatakan apa yang
kamu dengar dariku, yaitu perkataanku”. [HR Bukhari, no. 914].
Kedua : Kemudian berdiri untuk
berkhutbah dan membukanya dengan: hamdalah, sanjungan kepada Allah,
syahadatain, shalawat, bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba’d.
Hal ini antara lain ditunjukkan oleh banyak hadits, diantaranya hadits
Abdullah. Dia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengajarkan kami khutbah hajat (yaitu):
الْحَمْدُ لِلَّهِ (نَحْمَدُهُ وَ)
نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
(وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا) مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ (وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا ) (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) ( يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) (أَمَّا
بَعْدُ)
"Dari Abdullah, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajari kami khutbah
untuk keperluan: “Alhamdulillah…,” artinya Segala puji bagi Allah (kami
memujiNya), mohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampunan
kepadaNya. Serta kami memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan
jiwa kami dan dari keburukan amalan kami.
Barangsiapa yang diberikan petunjuk
oleh Allah, tidak ada seorangpun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa
yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada
yang berhak diibadahi, kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu
bagiNya), dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah hamba dan utusanNya.
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali
Imran:102]
Hai sekalian manusia, bertaqwalah
kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan
daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [An Nisa’:1]
Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu
dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan RasulNya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al Ahzab: 70,
71]. (Amma ba’du).[HR Ahmad dan lainnya. Syaikh Al-Albani mengumpulkan
sanad-sanad hadits ini di dalam sebuah kitab kecil dengan judul Khutbah
Hajah]
Setelah memaparkan sanad-sanad
hadits khutbah hajah, Syaikh Al Albani berkata dalam penutup kitab
kecil beliau “Khutbah Hajah”: “Dari hadits-hadits yang telah lalu,
menjadi jelas bagi kita bahwa khutbah ini (yaitu, perkataan innal hamda
lillah…) digunakan untuk membuka seluruh khutbah-khutbah, baik khutbah
nikah, khutbah Jum’at, atau lainnya”.[Khutbah Hajah, hlm. 31, karya
Syaikh Al-Albani]
Walaupun membuka khutbah Jum’at dengan
khutbah hajah sebagaimana di atas hukumnya bukan wajib, namun pastilah
merupakan keutamaan, karena diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Dan dari khutbah hajah itu kita mengetahui bahwa khutbah Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dibuka dengan: hamdalah, pujian kepada
Allah, syahadatain, bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba’d.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata: “Tidaklah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah,
kecuali Beliau membuka dengan hamdalah, membaca syahadat dengan dua
kalimat syahadat, dan menyebut dirinya sendiri dengan nama diri
beliau”. [Zadul Ma’ad, 1/189]
Tentang membaca syahadat di
dalam khutbah, ditegaskan juga dalam hadits lain, sebagaimana hadits
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
"Tiap-tiap khutbah yang tidak ada
tasyahhud (syahadat) padanya, maka khutbah itu seperti tangan yang
terpotong” [HR Abu Dawud, kitab Al-Adab, Bab : Di dalam Khutbah.
Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Dawud]
Membaca shalawat di dalam
khutbah merupakan sunnah dan keutamaan, sebagaimana dilakukan oleh Ali
bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dalam khutbahnya. Disebutkan dalam
riwayat di bawah ini:
عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللَّهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللَّهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ
Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah, dia
berkata: Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali Radhiyallahu 'anhu, dan
berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku bahwa Ali
Radhiyallahu 'anhu naik mimbar, lalu memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan menyanjungNya, dan bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan berkata: “Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu
Bakar, yang kedua adalah Umar Radhiyallahu a'nhuma“. Ali Radhiyallahu
juga berkata: “Alloh menjadikan kebaikan di mana Dia cintai” [Riwayat
Ahmad di dalam Musnad-nya, 1/107, dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad
Syakir]
Ketiga : Khathib berkhutbah
dengan berdiri dan menghadapkan wajah kepada jama’ah, dan jama’ah
menghadap wajah kepada khathib. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma,
dia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam biasa berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian
Beliau duduk, kemudian Beliau berdiri" [HR Muslim, no. 861]
Imam Bukhari berkata: “Bab: Imam
menghadap kepada kaum (jama’ah), dan orang-orang menghadap kapada imam
ketika dia berkhutbah. Ibnu Umar dan Anas menghadap kepada imam”.
Ibnul Mundzir mengatakan: “Aku
tidak mengetahui perselisihan diantara ulama tentang hal itu”. [Fathul
Bari, 2/489. Penerbit: Darul Hadits, Kairo].
Ibnu Hajar mengatakan: “Diantara
hikmah makmum menghadap kepada imam, yaitu bersiap-siap untuk
mendengarkan perkataannya, dan melaksanakan adab terhadap imam dalam
mendengarkan perkataannya. Jika makmum menghadapkan wajah kepada imam,
dan menghadapkan kepada imam dengan tubuhnya, hatinya, dan
konsentrasinya, hal itu lebih mendorong untuk memahami nasihatnya dan
mencocoki imam terhadap apa yang telah disyari’atkan baginya untuk
dilaksanakan”. [Fathul Bari, 2/489. Penerbit: Darul Hadits, Kairo].
Keempat : Duduk diantara dua khutbah, tidak berbicara ketika duduknya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, dia berkata,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَقْعُدُ قَعْدَةً لَا يَتَكَلَّمُ
"Aku melihat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam berkhutbah berdiri, lalu duduk sebentar, Beliau tidak
berbicara". [HR Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani].
Kelima : Khutbah hendaklah sebentar, shalat lebih panjang, namun keduanya itu sedang.
قَالَ أَبُو وَائِلٍ خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا
"Abu Wa’il berkata: ’Ammar berkhutbah
kepada kami dengan ringkas dan jelas. Ketika dia turun, kami
berkata,”Hai, Abul Yaqzhan (panggilan Ammar). Engkau telah berkhutbah
dengan ringkas dan jelas, seandainya engkau panjangkan sedikit!” Dia
menjawab,”Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,’Sesungguhnya panjang shalat seseorang, dan pendek khutbahnya
merupakan tanda kefahamannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah
khutbah! Dan sesungguhnya diantaranya penjelasan merupakan sihir’.”
[HR Muslim, no. 869].
Dalam hadits lain disebutkan, dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata,
كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا
"Aku biasa shalat bersama
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka shalat Beliau sedang,
dan khutbah Beliau sedang". [HR Muslim, no. 866].
Adapun ukuran panjang shalat
Jum’at dapat dilihat dari kebiasaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau biasa membaca surat Al A’la dan Al Ghasyiyah, atau Al Jumu’ah
dan Al Munafiqun. Sehingga khutbah Jum’at hendaklah tidak lebih lama
dari itu. Dari An Nu’man, dia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam biasa membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at
dengan: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah".
[HR Muslim, no. 878].
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ
"Abu Hurairah berkata,”Aku
pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca
keduanya (surat Al A’la dan Al Ghasyiyah) pada hari Jum’at". [HR
Muslim, no. 862].
Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Al
‘Ablaani berkata,”Memanjangkan khutbah merupakan cacat yang seharusnya
ditinggalkan oleh para khathib. Mereka lebih mengerti daripada yang
lain, bahwa pengunjung masjid pada shalat Jum’at ada pemuda, ada orang
tua pikun yang tidak mampu menahan wudhu’ dan kesucian sampai waktu
yang lama, ada orang yang memiliki kebutuhan lain, ada orang yang
lemah, orang sakit, dan ada orang-orang yang memiliki halangan.
Sehingga memanjangkan khutbah akan sangat menyusahkan mereka. Selain
itu, memanjangkan khutbah akan membangkitkan kebosanan, bahkan
kejengkelan terhadap khathib dan khutbahnya. Sebagaimana dikatakan
(dalam pepatah): Sebaik-baik perkataan adalah yang ringkas dan jelas,
dan tidak panjang lebar yang membosankan.” [Imamatul Masjid, hlm.
95-96].
Ketika membicarakan tentang sunnah
memendekkan khutbah Jum’at, Syaikh Ahmad bin Muhammad Alu Abdul Lathif
Al Kuwaiti berkata: “Wahai, khathib yang membuat orang menjauhi
dzikrullah (khutbah), karena engkau memanjangkan perkataan! Tahukah
engkau, bahwa diantara sunnah khutbah Jum’at adalah meringkaskannya dan
tidak memanjangkannya. Dan sesungguhnya memanjangkan khutbah Jum’at
menyebabkan para hadirin lari (tidak suka), menyibukkan fikiran, dan
tidak puas dengan tuntunan Nabi Pilihan (Muhammad) n serta para
pendahulu umat ini yang baik-baik”. [Al ‘Ujalah Fi Sunniyyati Taqshiril
Khutbah, hlm. 6].
Kalau kita memperkirakan lama khutbah Jum’ah yang baik, mungkin sekitar 15 menit. Wallahu a’lam.
Keenam : Khathib hendaklah menjiwai khutbahnya.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا
خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى
كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ
"Dari Jabir bin Abdullah, dia
berkata,”Kebiasaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika
berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya
sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dengan
mengatakan:’ Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi’, ‘Musuh akan
menyerang kamu pada waktu sore’.” [HR Muslim, no. 867].
Imam Nawawi berkata,”Hadits ini
dijadikan dalil, bahwa khathib disukai yang membesarkan perkara khutbah
(yakni serius dan sungguh-sungguh dalam masalah khutbah, Pen.),
meninggikan suaranya, membesarkan perkataannya. Dan hal itu (hendaklah)
sesuai dengan tema yang dia bicarakan, yang berupa targhib (dorongan
kepada kebaikan) dan tarhib (ancaman terhadap keburukan). Dan
kemungkinan kemarahan Beliau yang sungguh-sungguh yaitu ketika Beliau
memperingatkan perkara yang besar dan urusan yang penting.” [Al Minhaj,
6/155-156. Dinukil dari kitab Hadyun Nabi Fi Khutbatil Jum’ah, hlm.
16, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir].
Ketujuh : Berkhutbah dengan perkataan
yang jelas, pelan-pelan, dan tidak berbicara dengan cepat, sebagaimana
hadits A’isyah Radhiyallahu 'anha,
...لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُ الْحَدِيثَ كَسَرْدِكُمْ
"... Beliau tidak berbicara cepat sebagaimana engkau berbicara cepat."[HR
Bukhari, Muslim].Dalam riwayat lain, disebutkan:
وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ
"Tetapi Beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang, jelas, orang yang duduk bersama Beliau dapat menghafalnya". [HR Tirmidzi di dalam Asy Syamail, no. 191].
Dalam riwayat lain, disebutkan:
…يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ
"Setiap orang yang mendengarnya akan memahaminya" [HR Abu Dawud]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak memperbanyak perkataan dalam khutbahnya, juga tidak
mengiringkan perkataan mengikuti lainnya, sehingga perkataan itu masuk
ke perkataan lainnya. Beliau tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan
khutbah. Bahkan Beliau melambatkan perkataan dan tidak terburu-buru
dalam mengeluarkannya. Metode ini, jelas memberikan kemampuan para
pendengar untuk memahami khutbah dan mencapai tujuannya. [Hadyun Nabi
Fi Khutbatil Jum’ah, hlm. 36, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir]
Kedelapan : Jika ada keperluan, khatib
boleh menghentikan khutbahnya sementara. Seperti mengingatkan orang
yang hadir tentang shalat tahiyatul masjid, menegur hadirin yang ramai,
dan semacamnya. Sebagaimana dalam hadits Jabir, bahwa Sulaik masuk
masjid pada hari Jum’at sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
sedang berkhutbah, lalu ia duduk. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda kepadanya,
يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ
رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ
وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Hai, Sulaik! Berdirilah, lalu
shalatlah dua raka’at, dan ringkaskanlah dua raka’at itu.” Kemudian
Beliau bersabda,”Jika salah seorang diantara kamu datang, pada hari
Jum’at, ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia shalat dua
raka’at, dan hendaklah dia meringkaskan dua raka’at itu.” [HR Muslim,
no. 875/59].
Begitu juga Khalifah Umar Radhiyallahu
'anhu pernah menegur seorang sahabat yang datang terlambat,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, yang artinya: Dari Ibnu
Umar Radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika Umar bin Al Khaththab sedang
berdiri dalam khutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki
-dari Muhajirin yang awal diantara sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam - masuk (masjid). Maka Umar menegurnya,”Jam berapa sekarang?”
Laki-laki itu menjawab,”Aku disibukkan, sehingga aku tidak pulang
kepada keluargaku sampai aku mendengar adzan, lalu aku tidak menambah
kecuali sekedar berwudhu.” Maka Umar mengatakan,”Dan berwudhu’ saja?
Padahal engkau telah mengetahui, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dahulu memerintahkan mandi.” [HR Bukhari, no. 878].
Kesembilan : Jika berdo’a, mengisyaratkan dengan jari telunjuk.
عَنْ عُمَارَةَ ابْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
"Dari ‘Umarah bin Ruaibah, dia melihat
Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua tangannya.
Maka ‘Umarah berkata: “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu!
Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
tidaklah lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini”. Dia
mengisyaratkan dengan jari telunjuknya". [HR Muslim, no. 874]
Di dalam riwayat Ahmad disebutkan, bahwa perbuatan itu dilakukan ketika berdo’a dalam khutbah.
Tentang khathib berdo’a di atas
mimbar ini, Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir berkata: (Termasuk
penyimpangan para khathib, yaitu) mendo’akan kebaikan untuk orang-orang
tertentu setiap Jum’at, dan selalu menetapi hal itu seperti (menetapi)
Sunnah. Adapun mendo’akan kebaikan untuk kaum muslimin semuanya, dan
untuk penguasa secara khusus terus-menerus, maka ini perkara yang
disyari’atkan, tidak terlarang. Telah diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa
jika ia berkhutbah, ia memuji Allah, menyanjungNya, memohonkan
shalawat kepada Allah untuk Nabi, dan mendo’akan kebaikan untuk Abu
Bakar dan Umar. Ibnu Qadamah berkata: ”Khathib disukai mendo’akan
kebaikan untuk mukminin dan mukminat serta untuk dirinya dan hadirin.
Jika dia mendo’akan kebaikan untuk penguasa kaum muslimin, maka itu
merupakan kebaikan … Karena jika penguasa kaum muslimin baik, padanya
juga terdapat kabaikan kaum muslimin. Maka do’a kebaikan untuk penguasa
kaum muslimin, merupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin, dan itu
disukai, bukan makruh”. [Al Mughni, 3/181. Dinukil dari Hadyun Nabi Fi
Khutbatil Jum’ah, hlm. 16].
Kesepuluh : Setelah selesai berkhutbah, kemudian mengimami shalat. Dalam hadits Abu Hurairah , Nabi bersabda:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
"Jika engkau berkata kepada kawanmu
“diamlah!”, pada hari Jum’at, sementara imam sedang berkhutbah, maka
engkau telah mengatakan perkataan sia-sia". [HR Bukhari, no. 934;
Muslim, no. 851].
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam “sementara imam sedang berkhutbah” ini menunjukkan, bahwa
imam shalat adalah khathib Jum’at. Dan ini merupakan kebiasaan kaum
muslimin sejak dahulu, sehingga kita tidak sepantasnya menyelisihinya.
Wallahu a’lam bish shawab.Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari
sumber di Kajian Sunnah