TAFSIR SURAH AL BAYYINAH
AYAT 6 - 8
TAFSIR AL AZHAR
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir.” (pangkal ayat 6). Yaitu
orang-orang yang sengaja menolak, membohongkan dan memalsukan
ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu, padahal kalau
mereka pakai akal yang sihat, tidak ada satu jua pun yang dapat
dibantah, sehingga mereka menolak itu hanya semata-mata karena
dipengaruhi oleh hawanafsu belaka: “Dari ahlil-kitab dan musyrikin itu.”
Yaitu orang Yahudi dan Nasrani dan musyrikin penyembah berhala: “Adalah
di neraka jahannam, yang akan kekal mereka padanya.” Di sanalah mereka
akan mendapat azab dan siksanya tidak berkeputusan: “Mereka itulah yang
sejahat-jahat makhluk.” (ujung ayat 6).
Mengapa dikatakan mereka sejahat-jahat makhluk? Ialah karena sebagai
yang ditafsirkan oleh Syaikh Muhammad Abduh: “Karena mereka memungkiri
kebenaran, sesudah mereka mengetahuinya dan telah cukup dalil dan tanda
atas kebenarannya. Dimungkirinya kebenaran yang telah diakui oleh jiwa
mereka sendiri, sehingga rusaklah rohnya dan sengaja merusak pula kepada
yang lain.”
Keterangan ayat yang setegas ini dapatlah kita lihat pada usaha
beratus-ratus kaum Orientalis dan penyebar-penyebar Agama Kristen, yang
mereka berkata bahwa mereka menyelidiki Agama Islam secara mendalam,
mengadakan studi berpuluh tahun, diadakan akademi atau Fakultas khusus
untuk mempelajari segala cabang Ilmu Pengetahuan Islam lalu hasil
penyelidikan mereka disebarkan kepada orang-orang Islam sendiri, khusus
yang jatuh ke bawah pengaruh jajahan mereka. Maka mereka tafsirkanlah
ajaran Islam atau sejarah Nabi Muhammad SAW dengan dikendalikan oleh
rasa benci mereka kepada Islam. Sampai ada yang mengatakan bahwa Nabi
Muhammad itu adalah seorang kepala penyamun. Sampai ada yang mengatakan
bahwa Muhammad itu adalah seorang yang ditimpa penyakit sawan. Sampai
ada yang mengatakan bahwa Muhammad itu menyebarkan Islam di muka bumi
ini dengan pedang. Sampai ada yang mengatakan bahwa Agama Islam itu
adalah agama yang hanya mementingkan syahwat. Sampai ada yang mengatakan
bahwa Islam itu tidak mempunyai kebudayaan, tidak mempunyai filsafat.
Islam hanya menyalin dari filsafat Yunani. Sampai ada yang mengatakan
bahwa Al-Qur’an itu hanya karangan Muhammad saja, bukan wahyu. Tetapi
ada pula yang lain yang mengatakan bahwa Muhammad itu seorang yang
bodoh. Mereka tidak ingat lagi bahwa seorang bodoh tidaklah mungkin
dapat mengarang wahyu. Bahkan ada yang mengatakan Muhammad itu
mengharamkan orang makan daging babi, karena dia sendiri suka makan
babi. Karena Muhammad takut daging babinya dicuri khadamnya, lalu
diharamkannya.
Macam-macamlah yang mereka perbuat. Mulanya secara kasar, kian lama
kian memasukkan jarum secara halus. Beratus tahun lamanya kendali ilmu
“Ketimuran” (Orientalism) itu terpegang teguh di tangan mereka. Dan pada
Universitas-universitas yang dalam pengaruh mereka, ajaran Orientalis
dan Penyebar Kristen itulah yang di “kuliahkan” kepada murid-murid yang
beragama Islam, supaya setelah mereka keluar dari sekolah itu ilmu
mereka terhadap Agama mereka sendiri ialah ilmu yang diakui Orientalis
itu sendiri, bukan ilmu yang mereka ambil dari sumbernya yang asli.
Lebih-lebih lagi banyak naskhah kitab-kitab Islam yang mahal, sebagai
sumber pengetahuan yang tidak diketahui nilainya oleh tukang jual
barang loak (pasar miskin) dapat dibeli oleh mereka dan dimasukkan ke
dalam perpustakaan mereka yang bersar-besar di Leipzig, Bonn, Sarbon,
Leiden, Amerika dan lain-lain.
Hanya sekali-sekali muncul pencari Ilmu Pengetahuan yang jujur, yang
dapat mengeluarkan hasil penyelidikannya dengan adil. Adapun yang
terbanyak adalah Orientalis alat penjajahan, baik penjajahan politik
sebelum Negara-negar Islam merdeka, atau penjajahan peradaban setelah
negeri-negeri Islam mencapai kemerdekaannya. Dan mereka itu kerjasama,
bantu membantu dengan penyebar Agama Kristen. Keduanya berusaha keras
membelokkan cara berfikir orang Islam dari agama Tauhidnya dan tunduk
kepada cara mereka berfikir, yaitu memisahkan agama dari kegiatan hidup,
dan mengurung agama itu dalam gereja saja.
Maka cap yang diberikan Tuhan di ujung ayat: “Mereka itulah yang
sejahat-jahat makhluk,” adalah cap yang tepat. Dan inilah yang kita
rasakan hebat perjuangannya di seluruh Dunia Islam sekarang ini.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman.” (pangkal ayat 7). Yang
terutama Iman di sini niscaya ialah Iman kepada Allah dan Iman kepada
Rasul-Nya, menerima dan menyetujui petunjuk Tuhan yang telah tersebut
pada ayat 5 tadi. “Dan mengerjakan amalan yang shalih.” Membuktikan Iman
yang telah diakui dalam hati itu dengan perbuatan dan sikap hidup.
Terutama mengurbankan harta benda untuk berbuat kebajikan kepada sesama
manusia, sebagai yang telah dijiwai oleh zakat tadi, dan berkurban pula
dengan jiwa-raga dan tenaga untuk memperjuangkan tegaknya kebenaran atau
Sabilillah di muka bumi ini, yang dijiwai oleh menegakkan
sembahyang, serta tulus ikhlas di dalam segala hubungan, baik hubungan
ke langit kepada Allah, atau ke bumi kepada sesama manusia.
Dan semua amalan yang shalih itu mereka kerjakan dengan kesadaran dan
penuh cinta: “Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (ujung ayat 7).
Karena dengan mengikuti kebenaran, menegakkan kepercayaan dan
membuktikan dengan perbuatan, mereka itu telah mengisi kemanusiaan
sebaik-baiknya. Mereka telah memenuhi arti hidup. Dan Allah pun
memuliakan mereka. Mereka pelihara punca-punca budi dan keutamaan yang
jadi tujuan sejati wujud Insan ini. Dan itulah bahagia yang sejati.
Sebab dia telah dapat menyesuaikan apa yang terasa dalam hati sanubari
dengan tingkah laku di dalam hidup.
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga-syurga tempat
menetap.” Itulah perhentian dan penetapan terakhir, tempat istirahat
menerima hasil dan ganjaran dari kepayahan berjuang pada hidup yang
pertama di dunia: “Yang mengalir padanya sungai-sungai,” sebagai lambang
kiasan dari kesuburan dan kesejukan, tepung tawar untuk ketenteraman
(muthmainnah), kesuburan yang tiada pernah kering: “Kekal mereka padanya
selama-lamanya,” nikmat yang tiada pernah kering rahmat yang tiada
pernah terhenti, tidak akan keluar lagi dari dalam nikmat itu dan tidak
lagi akan merasakan mati.
Sebab mati itu hanya sekali yang dahulu saja. Dan yang menjadi puncak
dan puncak dari nikmat itu ialah: “Allah ridha kepada mereka,” Allah
senang, Allah menerima mereka dengan tangan terbuka dan penuh Rahman,
sebab tatkala di dunia mereka taat dan setia: “Dan mereka pun ridha
kepada-Nya,” Ridha yang seimbang, balas membalas, kontak mengontak,
bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Karena Iman dan keyakinan jualah
yang mendorong mereka memikul beban perintah Allah seketika mereka hidup
dahulu, tidak ada yang dirasa berat dan tidak pernah merasa bosan.
“Yang demikian itulah untuk orang yang takut kepada Tuhannya.” (ujung
ayat 8).
Dengan ujung ayat ini diperkuatlah kembali tujuan hidup seorang
Muslim, Tuhan meridhai mereka, dan mereka pun meridhai Tuhan. Tetapi
betapa pun akrab hubungannya dengan Tuhan, namun rasa takutnya kepada
Tuhan tetap ada. Oleh sebab itu maka rasa sayang dan rasa cinta kepada
Tuhan, ridha meridhai dan kasih mengasihi tidaklah sampai menghilangkan
wibawa, kekuasaan, bahkan keangkuhan Tuhan di dalam sifat keagungan dan
ketinggian-Nya. Sebab itulah maka si Muslim mengerjakan suruh dan
menghentikan tegah. Dia sangat mengharapkan dimasukkan ke dalam syurga,
namun di samping itu dia pun takut akan diazab Tuhan dan dimasukkan ke
dalam neraka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda sangat berarti