Senin, 14 Oktober 2013

HADITS TENTANG HARAMNYA MUSIK



وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ بْنُ 

قَيْسٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَامِرٍ أَوْ أَبُو مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ

وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ
 

وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

(Al-Bukhari berkata) : dan telah berkata Hisyam bin 'Ammar: telah memberitahukan kepada kami Shodaqoh bin Kholid, (ia berkata): telah memberitahukan kepada kami Abdurrahman bin Yazid bin Jaabir, (ia berkata): telah memberitahukan kepada kami Athiyyah bin Qois alKilaaby, (ia berkata): telah memberitahukan kepada kami Abdurrahman bin Ghonam al-Asy-'ary, (ia berkata): telah memberitahukan kepadaku Abu Amir atau Abu Malik al-Asy'ariy, demi Allah ia tidak berdusta kepadaku bahwa ia mendengar dari Nabi shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sungguh akan ada pada umatku, sekelompok kaum yang menghalalkan zina, sutera (bagi lelaki), khamr (minuman keras), dan alat musik (Shahih al-Bukhari pada Kitabul Asyribah Bab Maa jaa-a fii man yastahillul khomro wa yusammiihi bi ghoiri ismihi juz 17 halaman 298).
Penjelasan tentang Para Perawi Hadits:
Sebenarnya, tidak diperlukan penjelasan lebih jauh tentang masing-masing perawi, karena hadits ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai kitab hadits yang paling shahih). Namun, untuk semakin memperjelas dan mendulang faidah ilmiah, bisa dijabarkan sebagai berikut:
1) Hisyam bin 'Ammaar.
Nama Lengkap: Hisyam bin Ammaar bin Nushair as-Sulamiy
Penilaian para Ulama' Hadits: shoduq menurut al-Hafidz Ibnu Hajar dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, tsiqoh (terpercaya) menurut al-'Ijliy dan Yahya bin Main(Lihat Lisaanul Miizan (7/419) No perawi 5104).
2) Shodaqoh bin Kholid
Nama Lengkap: Shodaqoh bin Kholid Abul Abbas al-Qurosyi ad-Dimasyqi
Penilaian para Ulama' hadits : tsiqoh, menurut Ibnu Hibban dan al-'Ijliy (Lihat ats-Tsiqoot libni Hibban (6/466))

3) Abdurrohman bin Yazid bin Jabir
Penilaian para Ulama' : 
Abu Hatim menyatakan : tsiqoh shoduq laa ba'sa (tidak mengapa) Yahya bin Main menyatakan tsiqoh (Lihat al-Jarh wat Ta'dil karya Ibnu Abi Hatim ar-Roziy (5/299) no perawi 1421)

4) Athiyyah bin Qois al-Killaaby
Penilaian para Ulama' :
Abu Hatim : Sholihul Hadits
Abdul Wahid bin Qois : manusia mengoreksi tulisan di mushaf mereka dengan bacaan (qiroah) dari Athiyyah bin Qois
(Lihat al-Jarh wat Ta'dil karya Ibnu Abi Hatim ar-Roziy (7/203) no perawi 419).

5) Abdurrahman bin Ghonm al-'Asyariy
Penilaian para Ulama'
Al-'Ijliy : tsiqoh, termasuk salah seorang pemuka Tabi'in (Lihat at-Tsiqoot karya al-'Ijliy (2/84))

6) Abu 'Amir al-Asy'ariy
termasuk Sahabat Nabi, sehingga tidak diragukan lagi keadilannya. (Lihat kitab al-Ishobah fii tamyiizis Shohaabah karya Ibnu Hajar (7/252) no perawi 10179). 
Faidah: Hadits ini menunjukkan haramnya penggunaan alat musik, karena Nabi menggandengkan penyebutannya dengan zina, sutera, dan khamr, yang secara asal semuanya adalah haram, namun suatu saat -kata beliau- akan ada yang menghalalkannya.

Referensi:
• Kitab Fathul Baari Karya Imam Ibnu Hajar

By: Abu Abdurrahman Asrori asy Syafi’i

SUMBER : nahdhatus-sunnah

Sabtu, 06 Juli 2013

Hadits-Hadits Lemah Seputar Lailatul Qadr

Berikut kami mengangkat sejumlah hadits lemah berkaitan dengan lailatul qadr agar kelemahannya diketahui untuk tidak diamalkan. Kami merangkum hadits tersebut dari sejumlah buku yang kualitas pembahasannya bisa dipercaya.
Hadits Pertama
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِيْ طُولِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan umur-umur manusia sebelum beliau atau sesuatu yang Allah kehendaki dari hal tersebut. Beliau menganggap bahwa umur umatnya pendek untuk mencapai amalan yang telah dicapai oleh selain umat Islam yang berumur panjang. Maka, kepada beliau, Allah memberikan lailatul qadr yang lebih baik daripada seribu bulan.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththâ` no. 768. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Saya tidak mengetahui hadits yang diriwayatkan secara musnad, tidak (pula) secara mursal dari jalur periwayatan (apapun), kecuali sesuatu yang ada dalamAl-Muwaththâ`. Itu adalah salah satu di antara empat hadits yang tidak ditemukan kecuali pada (kitab) yang bukan Al-Muwaththâ`.”[1]
Dalam Takmil An-Nafa’, penulisnya, Syaikh Muhammad ‘Amr Abdul Lathif, membawakan riwayat yang semakna dengan hadits di atas, yaitu sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas,sebuah riwayat mursal dari Mujahid, dan sebuah riwayat mu’dhal‘keterputusan dalam sanad dengan gugurnya dua rawi atau lebih’ dari Ali bin ‘Urwah –salah seorang rawi yang sangat lemah-. Semuanya memiliki kelemahan.

Hadits Kedua
Dari Yusuf bin Sa’ad, beliau berkata, “Seorang lelaki berdiri kepada Al-Hasan bin Aliradhiyallâhu ‘anhu setelah (Al-Hasan) membaiat muawiyah radhiyallâhu ‘anhu. (Orang tersebut) berkata, ‘Engkau telah mencoreng wajah kaum mukminin (atau dia berkata, ‘Wahai orang yang mencoreng wajah kaum mukminin’),’ maka (Al-Hasan) berkata,
لاَ تُؤَنِّبْنِيْ رَحِمَكَ اللَّهُ فَإِنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أُرِىَ بَنِى أُمَيَّةَ عَلَى مِنْبَرِهِ فَسَاءَهُ ذَلِكَ فَنَزَلَتْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ يَا مُحَمَّدُ يَعْنِى نَهْرًا فِي الْجَنَّةِ وَنَزَلَتْ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ يَمْلِكُهَا بَعْدَكَ بَنُو أُمَيَّةَ يَا مُحَمَّدُ
‘Janganlah engkau mencela saya. Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya Bani Umayyah diperlihatkan kepada beliau, sedang beliau berada di atas mimbar, maka hal tersebut tidak menyenangkan beliau. Kemudian, turunlah “innâ a’thainâkal kautsar”. Wahai Muhammad, yakni sebuah sungai di surga. Turun pula “innâ anzalnâhu fî lailatil qadr. Wa mâ adrâka mâ lailatul qadr. Lailatul qadri khairun min alfi syahr”. Wahai Muhammad, hal tersebut dimiliki oleh Bani Umayyah setelahmu.’.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy, Ibnul Jarîr, dan selainnya. Imam At-Tirmidzy sendiri melemahkan hadits di atas, demikian pula Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, dan Ibnu Katsir menambahkan bahwa sanad hadits tersebut juga mengandungidthirâb ‘keguncangan’ dan, pada matannya, terdapat nakârah ‘kemungkaran’ dari beberapa sisi.

Hadits Ketiga
Dari Abu Dzar Al-Ghifary, beliau berkata,
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِيْ رَمَضَانَ أَوْ فِيْ غَيْرِهِ ؟ قَالَ: ” بَلْ هِيَ فِيْ رَمَضَانَ “، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ تَكُونُ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ مَا كَانُوا فَإِذَا قُبِضَ الْأَنْبِيَاءُ رُفِعَتْ أَمْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ؟ قَالَ: ” لَا، بَلْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ “، قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِيْ أَيِّ رَمَضَانَ هِيَ ؟ قَالَ: ” الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ وَالْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ ” قَالَ: ثُمَّ حَدَّثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاهْتَبَلْتُ غَفْلَتَهُ ، فَقُلْتُ: فِيْ أَيِّ الْعَشْرَينِ ؟ قَالَ: ” الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ لَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا “، ثُمَّ حَدَّثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدَّثَ فَاهْتَبَلْتُ غَفْلَتَهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ لَتُخْبِرَنِّيْ أَوْ لَمَا أَخْبَرْتَنِيْ فِيْ أَيِّ الْعَشْرِ هِيَ ؟ قَالَ: فَغَضِبَ عَلَيَّ غَضَبًا مَا غَضِبَ عَلَيَّ مِثْلَهُ لَا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ، فَقَالَ: ” إِنَّ اللهَ لَوْ شَاءَ لَأَطْلَعَكُمْ عَلَيْهَا الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ “
“Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku bahwa lailatul qadr berada pada (bulan) Ramadhan atau pada (bulan) lain.’ Beliau menjawab, ‘Bahkan (malam) itu berada pada (bulan) Ramadhan.’ Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah (malam) itu bersama para nabi sepanjang mereka ada, apabila mereka meninggal, (malam) itu juga ikut terangkat, ataukah (malam) itu (tetap ada) hingga hari kiamat?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tetapi (malam) itu (tetap ada) hingga hari kiamat.’ Saya bertanya (lagi), ‘Berada pada (malam) Ramadhan manakah (malam) itu?’ Beliau menjawab, ‘Carilah pada sepuluh malam pertama dan sepuluh malam terakhir.’ Kemudian, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pembicaraan maka saya menunggu kesempatan, lalu saya bertanya, ‘Di manakah di antara dua sepuluh itu?’ Beliau menjawab, ‘Carilah pada sepuluh malam terakhir, jangan engkau bertanya sesuatu apapun setelahnya.’ Kemudian, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pembicaraan maka saya menunggu kesempatan, lalu saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya bersumpah terhadapmu agar engkau memberitahukan kepadaku di manakah (malam) itu di antara sepuluh (malam terakhir) tersebut.’ Maka, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam marah kepadaku, dengan kemarahan yang beliau tidak pernah seperti itu sebelumnya tidak (pula) setelahnya, kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya Allah -jika berkehendak- akan memperlihatkan (malam) itu kepada kalian. Carilah pada tujuh malam terakhir.’.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’âni Al-Atsar, Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqy, dan selainnya.
Pada sanadnya, terdapat rawi yang bernama Martsad bin ‘Abdillah, seorang rawi yangmajhul ‘tidak dikenal’. Hadits tersebut dilemahkan oleh Syaikh Al-Albany dalamSilsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah no. 3100 dan disebutkan pula oleh beliau bahwa ada bentuk nakârah ‘kemungkaran’ dalam matannya.
Hadits Keempat
مَنْ قَرَأَ فِيْ إِثْرِ وُضُوْئِهِ : { إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ } مَرَّةً وَاحِدَةً كَانَ مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَمَنْ قَرَأَهَا مَرَّتَيْنِ كُتِبَ فِيْ دِيْوَانِ الشُّهَدَاءِ وَمَنْ قَرَأَهَا ثَلَاثًا حَشَرَهُ اللهُ مَحْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ
“Barangsiapa yang, setelah berwudhu, membaca, ‘Innâ anzalnâhu fî lailatil qadr,’ sebanyak sekali, dia (tergolong salah satu) dari para shiddiqin. Barangsiapa yang membaca (ayat) itu sebanyak dua kali, dia akan terhitung ke dalam catatan para syuhada. Barangsiapa yang membaca (ayat) itu sebanyak tiga kali, dia akan dikumpulkan oleh Allah bersama perkumpulan para nabi.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ad-Dailamy dalam Musnad Firdaus dari jalur Abu ‘Ubaidah, dari Al-Hasan, dari Anas, dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Demikian yang disebutkan oleh As-Suyuthy dalam Al-Hawy. Pada sanad tersebut, ada Abu ‘Ubaidah, sementara pengguna kata dari oleh Al-Hasan Al-Bashry, padahal beliau adalah seorang mudallis.
Hadits di atas dianggap palsu oleh Syaikh Al-Albany rahimahullâh dalam Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah no. 1449 dan no. 1527.
Anggapan kepalsuan hadits di atas –menurut Syaikh Al-Albany rahimahullâh – sangat tampak dari konteks hadits itu.

Hadits Kelima
إِنَّ اللهَ وَهَبَ لِأُمَّتِيْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَلَمْ يُعْطِهَا مَنْ كَانَ قَبْلَهُمْ
“Sesungguhnya Allah telah memberikan lailatul qadr pada umatku, dan tidak pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya.”
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ad-Dailamy dalam Musnad Firdaus sebagaimana dalam Ad-Durr Al-Mantsûr karya As-Suyuthy dan dalam Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah no. 3106 karya Syaikh Al-Albany.
Hadits tersebut divonis sebagai hadits palsu oleh Syaikh Al-Albany lantaran, di dalam sanadnya, terdapat seorang pemalsu hadits, Ismail bin Abi Ziyad Asy-Syamy.

Hadits Keenam
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ومَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ
“Barangsiapa yang qiyam Ramadhan karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu. Barangsiapa yang qiyampada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang.”
Hadits dengan konteks di atas dikeluarkan oleh Imam An-Nasâ`iy dalam As-Sunan Al-Kubrâ` dengan bersandar pada nukilan Syaikh Al-Albany dari manuskrip As-Sunan Al-Kubrâ`, walaupun ada sedikit perbedaan dengan konteks kitab tersebut yang tercetak saat ini.
Tambahan kalimat pada akhir hadits dianggap syâdz ‘ganjil’ oleh Syaikh Al-Albany pada sebuah pembahasan ilmiah dalam Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah no. 5083, demikian pula dianggap sebagai tambahan yang mungkar oleh Ibnu Abdil Barr dalamAt-Tamhîd 7/105.

Hadits Ketujuh
مَنْ قَرَأَ “إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ” عُدِلَتْ بِرُبُعِ الْقُرْآنِ
“Barangsiapa yang membaca, ‘Innâ anzalnâhu fî lailatil qadr,’ (bacaannya) akan dinilai dengan seperempat Al-Qur`an.”
Hadits di atas dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr Al-Marwazy sebagaimana dalamMukhtashar Qiyâmul Lail dari jalur ‘Amr bin Riyâh (seorang dajjal, pendusta), dari Yazîd Ar-Raqâsy (seorang yang dhaif), dari Anas bin Malik secara marfu.
Hadits ini divonis palsu oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah no. 4324.

Hadits Kedelapan
اطْلُبُوهَا لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ وَلَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ. ثُمَّ سَكَتَ
“(Rasulullah bersabda,) ‘Carilah (lailatul qadr) pada malam ketujuh belas, malam kedua puluh satu, dan malam kedua puluh tiga,’ kemudian beliau diam.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dâwud no. 244, tetapi dilemahkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dha’îf Sunan Abu Dâwud 2/65/66.

Hadits Kesembilan
Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata,
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila saya mengetahui lailatul qadr pada suatu malam. Apa yang mesti saya baca? Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallammenjawab,
قُولِيْ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
‘Katakanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai rasa maaf, maka maafkanlah aku.’.’.”
Hadits di atas dikeluarkan oleh At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, Ibnu Mâjah, dan selainnya dari jalur Abdullah bin Buraidah dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Abdullah bin Buraidah dianggap tidak mendengar hadits apapun dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Demikian ucapan Ad-Dâraquthny dan Al-Baihaqy, serta diikuti oleh Al-Hâfizh Ibnu Hajar.
Dahulu, Syaikh Al-Albany pernah melemahkan hadits ini berdasarkan sebab tersebut dalam risalah beliau, Naqd Nushûsh Haditsiyah hal. 45, tetapi beliau rujuk dan menshahihkan hadits tersebut dalam Silsilah Al-Ahâdits Ash-Shahîhah no. 3337.
Alasan Syaikh Al-Albany adalah bahwa Abdullah bin Buraidah mendapati masa hidup Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ dan mungkin mendengar dari Aisyah.
Sangkaan saya adalah bahwa, dalam hal ini, ucapan Ad-Dâraquthny dan Al-Baiqhaqy lebih harus diterima. Hal tersebut disebabkan oleh tiga hal:
Pertama, Ad-Dâraquthny memastikan bahwa Abdullah bin Buraidah tidak mendengar dari Aisyah.
Kedua, tidak seorang pun di antara imam ahli hadits yang menetapkan sebaliknya.
Ketiga, sebagaimana ucapan Ad-Dâraquthny diterima dalam hal menghukumi seorang rawi walaupun bersendirian, demikian pula ucapan tersebut harus diterima dalam hal menafikan pendengaran.
Hadits di atas juga telah dilemahkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy dalam kitab beliau, Ahâdits Mu’allah Zhâhiruhâ Ash-Shihhah hal. 450-460 (cet. Dârul Atsar).
Wallâhu A’lam.

Demikian beberapa pembahasan yang berkaitan dengan lailatul qadr. Semoga pembahasan ini bermanfaat untuk para pembaca. Wallâhu A’lam.

Rabu, 26 Juni 2013

TENTANG MALAM NISHFU SYA’BAN

Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingatkan dalam Al-Qur`an Al-Karim,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” [Al-Ma`idah: 3]
Allah Subhanahu Juga mengingatkan,
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan, untuk mereka, agama yang tidak Allah izinkan?” [Asy-Syura: 21]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan (perkara baru) dalam urusan kami ini yang bukan berasal dari (urusan kami), perkara tersebut tertolak.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Serta banyak lagi dalil lain yang senada dengan ayat-ayat dan hadits di atas. Seluruh dalil tersebut menunjukkan secara tegas bahwa agama telah sempurna dan segala tuntunan keagamaan telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, tidaklah boleh kita mengada-adakan perkara baru dalam agama dalam bentuk apapun, walau dengan niat baik. Di antara bid’ah-bid’ah tersebut adalah perayaan malam Nishfu Sya’ban. Secara global, seluruh hadits yang berkaitan dengan keutamaan Nishfu Sya’ban tidaklah memiliki riwayat kuat yang bisa dijadikan sandaran. Hadits-hadits tentang keutamaan Nishfu Sya’ban tersebut terbagi dua:

Pertama: hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban secara umum.

Kedua: hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan Nishfu Sya’ban dalam shalat dan ibadah tertentu.

Adapun hadits-hadits tentang keutamaan Nishfu Sya’ban dalam bentuk shalat atau ibadah tertentu, semuanya berupa riwayat palsu atau batil. Kebatilan riwayat diterangkan oleh Ibnul Jauzy dalam Al-Mandhuat (2/440-445 no. 1010-1014), Al-Baihaqy dalam Syu’ab Al-Iman (no. 3841), Abul Khaththab Ibnu Dihyah dalam Ada` MaWajab (hal. 79-80), Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Manar Al-Munif (no. 174-177), Abu Syamah Asy-Syafi’iy dalam Al-Ba’its Fi Inkar Al-Bida’ Wa Al-Hawadits (hal. 124-137) dan Al-‘Iraqy dalam Takhrij Ihya` ‘Ulum Ad-Din (no. 582). Dalam Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil kesepakatan para ulama akan kebatilan hadits-hadits tersebut.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan Sya’ban secara umum, terdapat silang pendapat di kalangan ulama terdahulu dan belakangan. Yang benar adalah bahwa hadits-hadits tersebut lemah, tidak bisa menjadi sandaran. Demikian pula dilemahkan oleh Ad-Daraquthny[1], Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afa (3/789 pada biografi Abdul Malik bin Abdul Malik), Ibnul Jauzy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah(no. 915-924), Abul Khaththab Ibnu Dihyah dalam Ada` Ma Wajab (hal. 80), Abu Bakr Ibnul ‘Araby dalam Ahkam Al-Qur`an (4/1690), dan disetujui oleh Al-Qurthuby dalam Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an (16/128). Abul Khaththab Ibnu Dihyah berkata, “Ulama Al-Jarh Wa At-Ta’dil berkata, ‘Tiada satu hadits pun yang shahih tentang Nishfu Sya’ban.’.”[2]

Ibnu Rajab berkata, “Pada keutamaan malam Nishfu Sya’ban, terjadi silang pendapat pada sejumlah hadits, yang kebanyakan ulama melemahkann (hadits) itu, sedangkan Ibnu Hibban menshahihkan sebagian (hadits) tersebut.”[3]

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (salah seorang murid tabi’in) berkata, “Saya tidak mendapati seorang pun di antara guru-guru dan para ahli fiqih kami yang menoleh kepada malam Nishfu Sya’ban, serta kami tidak mendapati seorang pun yang menyebut hadits Makhul[4] dan tidak (seorang pun) yang menganggap (bahwa Nishfu Sya’ban) memiliki keutamaan di atas selainnya.”[5]

Ketika seseorang berkata kepada Ibnu Abi Mulaikah (salah seorang panutan tabi’in dan merupakan ahli fiqih mereka di Madinah), “Sesungguhnya Ziyad An-Numairy berkata, ‘Sungguh malam Nishfu Sya’ban pahalanya seperti pahala malam Lailatul Qadr,’,” Ibnu Abi Mulaikah pun menjawab, “Andaikata Saya mendengar (Ziyad) mengucapkan hal tersebut, sedang di tanganku ada tongkat, sungguh Saya akan memukulnya dengan (tongkat) itu.”[6]

Ketika ditanya tentang sifat turun Ilahi pada malam Nishfu Sya’ban, Imam Abdullah bin Al-Mubarak menghardik penanya tersebut seraya menjawab, “Wahai orang yang lemah, pada malam Nishfu (saja)!? Bahkan Allah turun pada setiap malam.”[7]
Demikian beberapa uraian ulama salaf terdahulu tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Meskipun hadits tentang keutamaan umum malam Nishfu Sya’ban shahih, tiada dalil pada hadits tersebut yang menunjukkan pembolehan mengadakan ritual-ritual ibadah yang sebagian kaum muslimin adakan. Karena, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah mencontohkan ibadah khusus, baik pada malam maupun siang Nishfu Sya’ban. Bahkan, pada malam Jum’at pun -padahal Jum’at penuh dengan keutamaan-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْلَيَالِي وَلَا تَخْتَصُّوا يَوْمَ الْجُمْعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ.
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at di antara malam-malam lain dengan shalat tertentu, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jum’at di antara hari-hari lain dengan berpuasa, kecuali pada kebiasaan puasa salah seorang di antara kalian.”[8]

Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah berlalu, kami mengingatkan akan beberapa bid’ah yang kadang diamalkan pada Nishfu Sya’ban:

Pertama: mengerjakan shalat khusus untuk malam Nishfu Sya’ban.

Banyak bentuk shalat yang sebagian manusia kerjakan pada malam Nishfu Sya’ban ini yang di antaranya adalah yang Imam An-Nawawy Asy-Syafi’iy sebutkan dalam Al-Majmu (3/549). Beliau menegaskan, “Shalat yang dikenal dengan nama shalat Ragha’ib -yaitu shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya pada malam awal Jum’at di bulan Rajab- dan shalat seratus rakaat pada malam Nishfu Sya’ban. Kedua shalat ini adalah bid’ah dan kemungkaran yang sangat buruk. Janganlah tertipu dengan penyebutan dua shalat ini dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulum Ad-Din. Jangan pula (tertipu) dengan hadits yang disebutkan dalam dua buku ini karena seluruh hal tersebut adalah batil ….”

Syaikh Ibnu Baz berkata, “Tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban, telah datang hadits-hadits yang tidak boleh dijadikan sebagai sandaran. Adapun (hadits-hadits) yang datang tentang keutamaan shalat pada malam itu, seluruhnya adalah (hadits) palsu sebagaimana yang telah diingatkan oleh banyak ulama.”

Kedua: mengkhususkan bacaan Yasin atau surah tertentu dalam shalat malam Nishfu Sya’ban.

Ketiga: berpuasa pada siang Nishfu Sya’ban. Hadits yang menjelaskan tentang puasa tersebut adalah palsu.

Keempat: merayakan malam Nishfu Sya’ban dengan acara makan dan semisalnya.

Kelima: menafsirkan bahwa “malam berberkah”, yang disebut pada ayat ke-3 dan ke-4 surah Ad-Dukhan, adalah malam Nishfu Sya’ban. Penafsiran ini tentunya tidak memiliki landasan kuat, bahkan menyelisihi ketegasan Al-Qur`an dan hadits.

Keenam: mengkhususkan doa tertentu pada malam Nishfu Sya’ban.

Ketujuh: ziarah kubur.

Kedelapan: dzikir berjamaah.
Demikian beberapa peringatan seputar malam Nishfu Sya’ban yang kami sarikan dari:
Ø  Hukm Al-Ihtifal Bi Lailah An-Nishf Min Sya’ban karya Syaikh Abdul ‘Aziz Ibnu Baz.
Ø  Kalimat Yasirah Tata’allaq Bi Syahr Sya’bakarya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
Ø  Makalah tentang hadits malam Nishfu Sya’ban karya Hatim Al-‘Auny.
Ø  Al-Bida’ Al-Hauliyyah karya Abdullah At-Tuwaijiry.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin dan menjaga mereka di atas kemurnian Islam dan Sunnah. Amin.



[1] Dalam Al-‘Ilal.
[2] Al-Ba’its hal. 127 karya Abu Syamah.
[3] Latha’if Al-Ma’arif.
[4] Yakni hadits Makhul tentang keutamaan Nishfu Sya’ban.
[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ dengan sanad yang shahih.
[6] Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 7928 dan Ibnu Wadhdhah no. 120 dengan sanad yang shahih.
[7] Dikeluarkan oleh Abu Ustman Ash-Shabuny Asy-Syafi’iy dalam ‘Aqidah Salaf no. 92.
[8] Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.


SUMBER : DULQARNAIN.NET

Sabtu, 18 Mei 2013

Pentingnya Mengenal Al-Asma` Al-Husna

Mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya.
Keutamaan dan keagungan perihal mendalami ilmu Al-Asma` Al-Husna akan lebih jelas dengan memperhatikan beberapa keterangan berikut.

Pertama: ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama, yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung. Tentunya hal ini sangat dimaklumi karena kemuliaan suatu ilmu pengetahuan bergantung kepada jenis pengetahuan yang dipelajari dalam ilmu itu. Sementara itu, telah dimaklumi pula bahwa tiada yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abu Bakr Ibnul ‘Araby rahimahullah berkata, “Kemuliaan sebuah ilmu bergantung kepada apa-apa yang diilmui padanya. Sementara itu, (mengenal Allah) Al-Bari adalah semulia-mulia pengetahuan. Oleh karena itu, mengilmui nama-nama-Nya adalah ilmu yang paling mulia.”[1]
Oleh karena itu, mempelajari dan mendalami makna Al-Asma` Al-Husna adalah amalan yang paling utama dan mulia.

Kedua: mengenal Allah dan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan menambah kecintaan hamba kepada Rabb-nya, akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan dan membesarkan-Nya, lebih mengikhlaskan segala harapan dan tawakkal hanya kepada-Nya, serta membuat rasa takutnya terhadap Allah semakin mendalam. Tatkala pengetahuan dan pemahaman seorang hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Rabb-nya semakin kuat dan mendalam, akan semakin kuat pula tingkat penghambaannya kepada Allah, semakin tulus sikap berserah dirinya  kepada syariat Allah, serta semakin tunduk kepada perintah Allah dan semakin jauh meninggalkan larangan-Nya.

Ketiga: mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah dasar keimanan dan, dengan itu pula, iman akan semakin bertambah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’dy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, mengimani dan mengenal Al-Asma` Al-Husna mencakup tiga jenis tauhid: tauhid rubûbiyyah, tauhid ulûhiyyah, dan tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat. Tiga jenis tauhid ini adalah perputaran dan ruh iman, serta pokok dan puncak (keimanan). Oleh karena itu, setiap kali pengetahuan hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin bertambah, akan bertambah pula keimanan dan akan semakin kuat keyakinan (hamba) tersebut.”[2]
Demikian pula sebaliknya, siapa saja yang pengetahuannya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah kurang, kurang pula keimanannya.
Siapa saja yang mengenal Allah, ia akan mengenal segala sesuatu selain Allah. Namun, siapa saja yang kondisinya justru sebaliknya, perhatikanlah firman-Nya,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]
Cermatilah ayat di atas. Tatkala seseorang lupa terhadap Allah, Allah membuatnya lupa terhadap dirinya sendiri, lupa terhadap apa-apa yang merupakan kebaikannya, serta lupa terhadap sebab-sebab keberuntungannya di dunia dan akhirat.

Keempat: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan makhluk yang sebelumnya mereka tidaklah pernah terwujud dan tidak pernah tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla juga memudahkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi untuk mereka serta memberikan berbagai nikmat kepada mereka yang tidak mungkin bisa dijumlah dan dihitung. Seluruh hal tersebut adalah agar mereka mengenal Allah dan menyembah-Nya. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, seperti itu pula bumi. Perintah-Nya berlaku padanya agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [Ath-Thalaq: 12]
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman pula,
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ. ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, patutkah kalian kafir terhadap Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb alam semesta.’ Di bumi itu, Dia menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan padanya Dia menentukan kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian, Dia menuju langit, sedang langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’.” [Fushshilat: 9-11]
Allah ‘Azza Dzikruhu juga menyatakan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka tidak pula menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh.” [Adz-Dzariyat: 56-58]

Oleh karena itu, usaha seorang hamba dalam mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sesuai dengan maksud penciptaannya. Meninggalkan dan menelantarkan hal tersebut tergolong melalaikan maksud penciptaannya. Karena, sangatlah tidak layak seorang makhluk yang lemah yang telah mendapatkan berbagai macam keutamaan serta telah merasakan beraneka ragam karunia dan nikmat Allah, tetapi ia jahil terhadap Rabb-nya serta berpaling dari mengenal kebesaran, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.

Kelima: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mencintai timbulnya pengaruh nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada makhluk. Tentunya hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Di antara nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim[3] yang Maha merahmati makhluk dengan berbagai nikmat. -Sebagai contoh-, perhatikanlah surah Ar-Rahman, dari awal hingga akhir surah, yang menunjukkan rahmat Allah yang maha luas. Pada awal surah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ. فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“(Allah) Yang Maha Merahmati, Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya agar pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya. Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu secara adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang baunya harum. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” [Ar-Rahman: 1-13]
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,
فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ar-Rûm: 50]
Karena rahmat Allah, Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mempunyai sifat merahmati makhluk lain sebagaimana yang ditunjukkan dalam nash-nash dalil yang sangat banyak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-‘Alim ‘Yang Maha Mengetahui’ dan Allah mencintai orang-orang yang berilmu sebagaimana dalam nash-nash dalil yang sangat banyak.
Allah adalah At-Tawwab ‘Maha Menerima Taubat’ dan Allah mencintai orang-orang yang bertaubat,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [Al-Baqarah: 222]
Demikianlah seterusnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Demikianlah keadaan nama-nama Allah yang maha husna. Makhluk yang paling Dia cintai adalah siapa saja yang bersifat dengan konsekuensi dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Sedangkan, (makhluk) yang paling Dia benci adalah siapa saja yang bersifat dengan kebalikan dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Oleh karena itu, (Allah) membenci orang kafir, zhalim, jahil, yang berhati keras, bakhil, penakut, hina, dan bejat. Sementara itu, (Allah) Subhanahu adalah Jamil ‘Maha indah, elok’, cinta kepada keindahan; Alim, cinta kepada ulama; Rahim, cinta kepada orang yang merahmati; Muhsin ‘Maha Memberi Kebaikan’, cinta kepada orang yang berbuat kebaikan; Syakûr ‘Maha Pembalas Jasa’, cinta kepada orang yang bersyukur; Shabûr ‘Yang Maha Sabar’[4] cinta kepada orang yang bersabar; Jawwad ‘Maha Dermawan’[5], cinta kepada orang-orang yang dermawan dan berbuat kebajikan; Sattar [6], cinta kepada As-Sitr; Qadir, mencela kelemahan -“dan mukmin yang kuat lebih Dia cintai daripada mukmin yang lemah”-[7]; ‘Afûw ‘Maha Pemaaf’, cinta kepada sifat pemaaf; dan Witr ‘Yang Maha Satu’, cinta kepada yang witir[8]. Setiap hal yang Allah cintai merupakan pengaruh dan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan, setiap hal yang Dia benci berasal dari apa-apa yang bertentangan dan berlawanan dengan (pengaruh dan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya).”[9]

Kenam: orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla akan berdalil dengan sifat-sifat dan perbuatan Allah terhadap segala sesuatu yang Dia perbuat dan segala sesuatu yang Dia syariatkan. Karena, seluruh perbuatan Allah adalah keadilan, keutamaan, dan hikmah, yang telah menjadi konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, tiada suatu apapun yang Dia syariatkan, kecuali sesuai dengan konsekuensi tersebut. Sehingga, segala hal yang Allah beritakan adalah sesuatu yang hak dan benar, sedang segala perintah dan larangan-Nya adalah keadilan dan hikmah.
Misalnya, seorang hamba memperhatikan Al-Qur`an dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada makhluk melalui lisan para rasul tentang nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya serta tentang keharusan menyucikan dan membesarkan Allah terhadap segala sesuatu yang tidak layak. Juga, ia memperhatikan bagaimana perbuatan Allah kepada para wali yang memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan kenikmatan yang mereka peroleh karena itu, ataupun ia memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang menentang-Nya dan kebinasan akibat perbuatan mereka. Berdasarkan hal ini, orang-orang yang memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan berdalilkan bahwa Allah adalah satu-satu-Nya Ilah yang berhak diibadahi, “Yang Maha mampu atas segala sesuatu”, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu”, “Yang siksaan-Nya keras”, “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, “Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”, “Yang Maha melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki”, dan seterusnya berupa hal-hal yang menunjukkan rahmat, keadilan, keutamaan, dan hikmah Allah Jalla wa ‘Ala.
Apabila seorang hamba memperhatikan hal di atas, tidaklah diragukan bahwa hal tersebut akan menambah keyakinannya, memperkuat imannya, menyempurnakan tawakkalnya, dan semakin menambah penyerahan dirinya kepada Allah.

Ketujuh: mengenal Allah dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah perniagaan yang sangat menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah membuat jiwa menjadi tenang, hati menjadi tentram, dada menjadi lapang dan bersinar, merasakan keindahan surga Firdaus pada hari kiamat, melihat wajah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, meraih keridhaan Allah, dan selamat dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Insya Allah, keuntungan-keuntungan tersebut akan lebih tampak lagi pada uraian Al-Asma` Al-Husna yang akan diterangkan dalam tulisan ini secara bersambung.

Kedelapan: berilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah penjaga dari ketergelinciran, pembuka pintu amalan shalih, pemacu untuk menyongsong segala ketaatan, penghardik dari dosa dan maksiat, pembersih jiwa dari sikap-sikap tercela, penghibur pada masa musibah dan petaka, pengawal dalam menghadapi gangguan syaithan, penyeru kepada akhlak mulia dan fadhilah, serta lain sebagainya yang merupakan buah dan manfaat ilmu Al-Asma` Al-Husna.

Kesembilan: mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah dasar pokok untuk mengetahui segala ilmu pengetahuan yang lain. Hal ini karena yang dipelajari -selain ilmu tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala- terbagi dua:
  1. Makhluk-makhluk yang diadakan dan diciptakan oleh Allah Ta’ala.
  2. Perintah-perintah yang, dengannya, Allah memerintah makhluk, baik berupa perintah kauny maupun perintah syar’iy.
Sedangkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah bahwa mencipta dan memerintah hanyalah hak (Allah).” [Al-A’raf: 54]
Telah dimaklumi bahwa segala ciptaan dan perintah Allah adalah baik, dibangun di atas kemaslahatan, rahmat, dan kasih sayang untuk segenap makhluk. Seluruh hal tersebut adalah pengaruh dari kandungan Al-Asma` Al-Husna. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa penciptaan dan perintah bersumber dari Al-Asma` Al-Husna Allah Jalla Jalaluhu. Sebagaimana, segala sesuatu yang ada -selain Allah- adalah karena diadakan oleh Allah, sedang keberadaan selain-Nya adalah ikut kepada keberadaan-Nya, dan makhluk yang dicipta ikut kepada Yang Menciptakannya maka demikian pula ilmu tentang Allah adalah sumber segala ilmu yang lain. Oleh karena itu, berilmu tentang Al-Asma` Al-Husna adalah sumber ilmu pengetahuan yang lain.[10]

Kesepuluh: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitung (nama-nama) tersebut, ia akan dimasukkan ke dalam surga.”
Insya Allah, akan datang, pembahasan yang berkaitan dengan makna menghitung Al-Asma` Al-Husna, bahwa maknanya bukan hanya sekadar menjumlah dan menghafalkannya, melainkan juga mengetahui makna dan kandungannya sehingga tiada jalan bagi siapa saja yang ingin meraih keutamaan yang tersurat dalam hadits di atas, kecuali dengan mempelajari Al-Asma` Al-Husna sesuai dengan jalan yang benar dan pemahaman lurus.

Kesebelas: ayat-ayat yang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah kedudukannya yang paling agung dalam Al-Qur`an Al-Karim melebihi ayat lain[11]. Oleh karena itu, ayat yang paling agung adalah ayat Kursi -yang mengandung sejumlah sifat dan beberapa nama Allah- sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau,
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ { اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ
“Wahai Abul Mundzir (Ubay), ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya (Ubay) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau (kembali) bertanya, “Wahai Abul Mundzir, ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya menjawab, “Allahu La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qayyûm [ayat Kursi],” maka beliau memukul dadaku seraya berkata, “Demi Allah, ilmu akan membahagiakanmu, wahai Abul Mundzir.” [12]
Demikian pula keberadaan dan keutamaan surah Al-Fatihah yang telah dikenal dan dimaklumi, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyifatkan surah Al-Fatihah,
هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ
“(Al-Fatihah) itu adalah seagung-agung surah dalam Al-Qur`an.” [13]
Juga keutamaan surah Al-Ikhlash yang mengandung nama-nama dan sifat-sifat Allah. Salah satu keutamaannya tertera dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (surah Al-Ikhlash) itu senilai sepertiga Al-Qur`an.” [14]
Keterangan di atas menunjukkan keagungan dan kemuliaan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikian beberapa hal yang menunjukkan pentingnya mempelajari Al-Asma` Al-Husna dan betapa perlunya seorang hamba untuk mendalaminya.
Perlu kami ingatkan pula bahwa pembahasan Al-Asma` Al-Husna bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah, bukan bersumber dari akal, perasaan, eksperimen, inspirasi, dan adat istiadat. Ini adalah kaidah dasar yang harus kami ingatkan dalam tulisan ini mengingat bahwa banyak di antara kaum muslimin yang tertipu dengan kepandaian sebagian orang, yang hanya berlari di belakang dunia atau terkungkung oleh hawa nafsu dan was-was syaithan, dengan membawakan kandungan dan manfaat Al-Asma` Al-Husna yang tidak pernah ditunjukkan oleh tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah.
Semoga Allah memudahkan segala sebab kebaikan untuk kita semua dan menjauhkan kita semua dari segala kejelekan. Wallahu Ta’ala A’lam.


[1] Bacalah Ahkam Al-Qur`an 2/793 -dengan perantara kitab Asma`ullah wa Shifatuhu karya Al-Asyqar hal. 23-.
[2] At-Taudhih wa Al-Bayan Li Syajarah Al-Iman hal. 41.
[3] Nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim berasal dari kata rahmat. Terdapat rincian makna kata rahmat pada nama Ar-Rahman dan kata rahmat pada nama Ar-Rahim. Insya Allah, penjelasan tentang makna dan kandungan kedua nama itu akan datang.
[4] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[5] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[6] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan datang.
[7] Petikan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim.
[8] Yang witir mempunyai banyak kandungan makna. Insya Allah, hal ini akan diuraikan dalam pembahasan nama Al-Witr.
[9] ‘Idah Ash-Shabirin hal. 241. Baca jugalah Madarij As-Salikin 1/420 dan Miftah Dar As-Sa’adah 1/3.
[10] Demikian makna keterangan Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Bada`i’ Al-Fawa`id 1/163.
[11] Bacalah keterangan Ibnu Taimiyah dalam Da` At-Ta’arudh baina Al-‘Aql wa An-Naql 5/310-313.
[12] Dikeluarkan oleh Muslim no. 810 dan Abu Dawud no. 1460.
[13] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Abu Dawud no. 1458, An-Nasa`iy 2/193, dan Ibnu Majah no. 3785 dari Abu Sa’id Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu.
[14] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Abu Dawud no. 1461, dan An-Nasa`iy 2/171 dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan pula oleh Muslim no. 812, At-Tirmidzy no. 2899, dan Ibnu Majah no. 3738 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga dikeluarkan oleh Muslim no. 811 dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu.

SUMBER