Ahlu Sunnah Wal Jama'ah..
Siapakah Mereka..??
Apakah Kita Termasuk Mereka..??
Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di
lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang
melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah
Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku
adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].
Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?
Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah
memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh
satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua
golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan,
semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya,
siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu
orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari
ini” [HR. Tirmidzi].
Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa
ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang
beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang
ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya
pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan
sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas.
Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan
orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah.
Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat
bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya
Ahlus Sunnah itu?
Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti
keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu
permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini
sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika
dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan.
Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat,
agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh
sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat.
Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti
sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para
shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa
orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis
hal. 16)
Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan
demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran,
mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para
sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari
kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang
dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah
orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya.
Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala
berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang
yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah” [Al An’am: 116].
Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu :
“Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).
Ringkasnya :
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam
memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in
dan orang yang mengikuti mereka.
Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada
hadits di atas :
”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.
Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian
orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua
muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang
benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di
atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para
sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al
Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat
dikenal dengan dua indikator umum :
- Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar
pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja..
- Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas
kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan
(hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar
berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga
dengan label-label kelompoknya.
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk
membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur
dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah,
Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij.
Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya :
“Siapakah Ahlus Sunnah itu?
Ia menjawab:
Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah
terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”.
(Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh
Ibnu Abdil Barr).
Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang
tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian
mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus
Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat
dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an
dan Sunnah.
Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut
adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As
Sunnah..
Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah :
- Beriman kepada takdir Allah,
- Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
- Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
- Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
- Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
- Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
- Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
- Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga
mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
- Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
- Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir
(banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan
hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
- Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
- Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
- Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.
Jangan salah membatasi
Imam Al Barbahari berkata :
”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2).
Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu
sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada
yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan
pemahaman para sahabatnya.
Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.
Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan :
’Ahlus Sunnah adalah NU’
atau
’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’.
Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata:
’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’.
Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata :
’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’
kita tahu, bahwa jenggot dan celana cingkrang adalah sunnah.. Namun
tetap, hal tsb belum bisa dijadikan patokan bahwa orang yang demikian
pastilah ahlusunnah.. Ataupun yang tidak berjenggot berarti bukan ahlu
sunnah..
Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata :
’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang
shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai
bukan Ahlus Sunnah’.
Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah
masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada
kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik
buta terhadap kelompoknya.
Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan.
Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah :
”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174).
Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya.
Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia
sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan
sunnah.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya
”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”
[An Najm: 30].
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus,
yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan
jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian
Purnama]
Wallahu A'lam.
Semoga bisa diambil manfaatnya.
SUMBER: KHANSA
